• Featured

    KEK Seimangkei

  • Featured

    Kawasan Ekonomi Khusus Seimangkei

  • Articles

    Modal menanam Sawit

  • Articles

    Permintaan CPO melonjak tajam

  • Wednesday, May 7, 2008

    Biodiesel adalah senyawa methyl ester atau ethyl ester yang digunakan sebagai bahan bakar alternative pengganti bahan baker minyak bumi. Biodiesel lebih ramah lingkungan karena biodegradable dan non toxic. Pembakaran biodiesel mampu mengurangi emisi sebesar 20%.

    Industri Bio Diesel

    Posted at  4:36 AM  |  in  industri bio diesel  |  Read More»

    Biodiesel adalah senyawa methyl ester atau ethyl ester yang digunakan sebagai bahan bakar alternative pengganti bahan baker minyak bumi. Biodiesel lebih ramah lingkungan karena biodegradable dan non toxic. Pembakaran biodiesel mampu mengurangi emisi sebesar 20%.

    0 komentar:

    Kritik dan Saran yang membangun dari Anda sangat KAMI harapkan.

    Silahkan isi KOMENTAR anda yang membangun untuk kemajuan dan koreksi di blog ini.No Sara, No Racism

    Friday, May 2, 2008

    Perusahaan perkebunan sawit dan karet PT Bakrie Sumatera Plantation Tbk (UNSP) akan menguasai lahan perkebunan hingga mencapai 200 ribu hektar, yang bakal direalisasikan paling lambat pada 2011 mendatang. Prospek harga komoditi karet dan sawit dunia yang cenderung terus meningkat, mendorong perseroan untuk terus meningkatkan kapasitas produksinnya baik melalui peningkatan produktivitas maupun perluasan lahan. "Untuk meningkatkan perluasan lahan ini kami akan terus melakukan serangkaian akuisisi beberapa perusahaan perkebunan sejenis," kata Direktur Utama UNSP, Ambono Janurianto di Jakarta, Kamis (1/5).

    Ambono mengatakan sampai akhir 2007 luas lahan perkebunan yang dikuasai perseroan seluas 106,9 ribu hektar, yang terdiri dari 18,8 ribu hektar lahan perkebunan karet dan 88,04 ribu hektar lahan perkebunan sawit. Menurutnya perseroan telah melakukan beberapa akuisisi di antaranya terhadap PT Air Muring (perkebunan karet), PT Guntung Idaman (pabrik karet) dan PT Agro Mitra Madani (perkebunan sawit). "Kami yakin target pengembangan usaha dan ekspansi perseroan tercapai lebih cepat dari yang direncanakan, sehingga memberikan dampak positif bagi pertumbuhan kinerja dan nilai tambah bagi pemegang saham," katanya.

    Laba naik 794 persen

    Sementara itu kinerja UNSP pada kuartal pertama 2008 menunjukkan pertumbuhan yang sangat signifikan dengan melonjaknya laba bersih perseroan hingga mencapai 794 persen dibandingkan periode sama sebelumnya. "Laba bersih perseroan menjadi Rp165 miliar pada kuartal pertama 2008 atau naik 794 persen dan merupakan 80 persen dari perolehan laba 2007," ujarnya.

    Ambono mengatakan membaiknya harga jual minyak sawit berdampak signifikan terhadap perolehan penjualan maupun labanya. "Kami yakin prospek perseroan ke depan akan sangat cerah," katanya.

    Menurutnya kecenderungan harga karet dan minyak sawit terus meningkat. Harga internasional untuk minyak sawit terus mengalami peningkatan sejak kuartal pertama 2005 dan saat ini mencapai harga 1.148 dollar AS per ton. Sedangkan harga karet juga turut naik sejak kuartal ketiga 2007 hingga saat ini mencapai 2.753 dollar AS per ton.

    Dia menambahkan harga minyak sawit yang diterima perseroan pada kuartal pertama 2008 sebesar 1.148 dollar AS per ton atau naik 89 persen dibandingkan harga pada kuartal pertama 2007. Sedangkan harga karet yang diterima perseroan naik 23 persen menjadi 2.753 dollar AS per ton.

    Bakrie Targetkan 200 Ribu Hektar Perkebunan

    Posted at  1:29 AM  |  in  perkebunan kelapa sawit  |  Read More»

    Perusahaan perkebunan sawit dan karet PT Bakrie Sumatera Plantation Tbk (UNSP) akan menguasai lahan perkebunan hingga mencapai 200 ribu hektar, yang bakal direalisasikan paling lambat pada 2011 mendatang. Prospek harga komoditi karet dan sawit dunia yang cenderung terus meningkat, mendorong perseroan untuk terus meningkatkan kapasitas produksinnya baik melalui peningkatan produktivitas maupun perluasan lahan. "Untuk meningkatkan perluasan lahan ini kami akan terus melakukan serangkaian akuisisi beberapa perusahaan perkebunan sejenis," kata Direktur Utama UNSP, Ambono Janurianto di Jakarta, Kamis (1/5).

    Ambono mengatakan sampai akhir 2007 luas lahan perkebunan yang dikuasai perseroan seluas 106,9 ribu hektar, yang terdiri dari 18,8 ribu hektar lahan perkebunan karet dan 88,04 ribu hektar lahan perkebunan sawit. Menurutnya perseroan telah melakukan beberapa akuisisi di antaranya terhadap PT Air Muring (perkebunan karet), PT Guntung Idaman (pabrik karet) dan PT Agro Mitra Madani (perkebunan sawit). "Kami yakin target pengembangan usaha dan ekspansi perseroan tercapai lebih cepat dari yang direncanakan, sehingga memberikan dampak positif bagi pertumbuhan kinerja dan nilai tambah bagi pemegang saham," katanya.

    Laba naik 794 persen

    Sementara itu kinerja UNSP pada kuartal pertama 2008 menunjukkan pertumbuhan yang sangat signifikan dengan melonjaknya laba bersih perseroan hingga mencapai 794 persen dibandingkan periode sama sebelumnya. "Laba bersih perseroan menjadi Rp165 miliar pada kuartal pertama 2008 atau naik 794 persen dan merupakan 80 persen dari perolehan laba 2007," ujarnya.

    Ambono mengatakan membaiknya harga jual minyak sawit berdampak signifikan terhadap perolehan penjualan maupun labanya. "Kami yakin prospek perseroan ke depan akan sangat cerah," katanya.

    Menurutnya kecenderungan harga karet dan minyak sawit terus meningkat. Harga internasional untuk minyak sawit terus mengalami peningkatan sejak kuartal pertama 2005 dan saat ini mencapai harga 1.148 dollar AS per ton. Sedangkan harga karet juga turut naik sejak kuartal ketiga 2007 hingga saat ini mencapai 2.753 dollar AS per ton.

    Dia menambahkan harga minyak sawit yang diterima perseroan pada kuartal pertama 2008 sebesar 1.148 dollar AS per ton atau naik 89 persen dibandingkan harga pada kuartal pertama 2007. Sedangkan harga karet yang diterima perseroan naik 23 persen menjadi 2.753 dollar AS per ton.

    0 komentar:

    Kritik dan Saran yang membangun dari Anda sangat KAMI harapkan.

    Silahkan isi KOMENTAR anda yang membangun untuk kemajuan dan koreksi di blog ini.No Sara, No Racism

    Agribisnis adalah bisnis berbasis usaha pertanian atau bidang lain yang mendukungnya, baik di sektor hulu maupun di hilir. Pengembangan agribisnis kelapa sawit merupakan salah satu langkah yang diperlukan sebagai kegiatan pembangunan subsektor perkebunan dalam rangka revitalisasi sektor pertanian. Perkembangan pada berbagai subsistem yang sangat pesat pada agribisnis kelapa sawit sejak menjelang akhir tahun 1970-an menjadi bukti pesatnya perkembangan agribisnis kelapa sawit. Dalam dokumen praktis ini digambarkan prospek pengembangan agribisnis saat ini hingga tahun 2010, dan arah pengembangan hingga tahun 2025. Masyarakat luas, khususnya petani, pengusaha, dan pemerintah dapat menggunakan dokumen praktis ini sebagai acuan.

    Perkebunan kelapa sawit saat ini telah berkembang tidak hanya yang diusahakan oleh perusahaan negara, tetapi juga perkebunan rakyat dan swasta. Pada tahun 2003, luas areal perkebunan rakyat mencapai 1.827 ribu ha (34,9%), perkebunan negara seluas 645 ribu ha (12,3%), dan perkebunan besar swasta seluas 2.765 ribu ha (52,8%). Ditinjau dari bentuk pengusahaannya, perkebunan rakyat (PR) memberi andil produksi CPO sebesar 3.645 ribu ton (37,12%), perkebunan besar negara (PBN) sebesar 1.543 ribu ton (15,7 %), dan perkebunan besar swasta (PBS) sebesar 4.627 ribu ton (47,13%). Produksi CPO juga menyebar dengan perbandingan 85,55% Sumatera, 11,45% Kalimantan, 2%, Sulawesi, dan 1% wilayah lainnya. Produksi tersebut dicapai pada tingkat produktivitas perkebunan rakyat sekitar 2,73 ton CPO/ha, perkebunan negara 3,14 ton CPO/ha, dan perkebunan swasta 2,58 ton CPO/ha.

    Pengembangan agribisnis kelapa sawit ke depan juga didukung secara handal oleh enam produsen benih dengan kapasitas 124 juta per tahun. Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS), PT. Socfin, PT. Lonsum, PT. Dami Mas, PT. Tunggal Yunus, dan PT. Bina Sawit Makmur masing-masing mempunyai kapasitas 35 juta, 25 juta, 15 juta, 12 juta, 12 juta, dan 25 juta. Permasalahan benih palsu diyakini dapat teratasi melalui langkah-langkah sistematis dan strategis yang telah disepakati secara nasional. Impor benih kelapa sawit harus dilakukan secara hati-hati terutama dengan pertimbangan penyebaran penyakit.

    Dalam hal industri pengolahan, industri pengolahan CPO telah berkembang dengan pesat. Saat ini jumlah unit pengolahan di seluruh Indonesia mencapai 320 unit dengan kapasitas olah 13,520 ton TBS per jam. Sedangkan industri pengolahan produk turunannya, kecuali minyak goreng, masih belum berkembang, dan kapasitas terpasang baru sekitar 11 juta ton. Industri oleokimia Indonesia sampai tahun 2000 baru memproduksi olekimia 10,8% dari produksi dunia.

    Secara umum dapat diindikasikan bahwa pengembangan agribisnis kelapa sawit masih mempunyai prospek, ditinjau dari prospek harga, ekspor dan pengembangan produk. Secara internal, pengembangan agribisnis kelapa sawit didukung potensi kesesuaian dan ketersediaan lahan, produktivitas yang masih dapat meningkat dan semakin berkembangnya industri hilir. Dengan prospek dan potensi ini, arah pengembangan agribisnis kelapa sawit adalah pemberdayaan di hulu dan penguatan di hilir.

    Sejalan dengan tujuan pembangunan pertanian, tujuan utama pengembangan agribisnis kelapa sawit adalah:
    1. Menumbuh kembangkan usaha kelapa sawit di pedesaan yang akan memacu aktivitas ekonomi pedesaan, menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan 
    2. Menumbuhkan industri pengolahan CPO dan produk turunannya serta industri penunjang (pupuk, obata-obatan dan alsin) dalam meningkatkan daya saing dan nilai tambah CPO dan produk turunannya. 
    Sedangkan sasaran utamanya adalah
    1. Peningkatan produktivitas menjadi 15 ton TBS/ha/tahun,
    2. Pendapatan petani antara US$ 1,500 – 2,000/KK/tahun, dan 
    3. Produksi mencapai 15,3 juta ton CPO dengan alokasi domestik 6 juta ton.
    Arah kebijakan jangka panjang adalah pengembangan sistem dan usaha agribisnis kelapa sawit yang berdaya saing, berkerakyatan, berkelanjutan dan terdesentralisasi. Dalam jangka menengah kebijakan pengembangan agribisnis kelapa sawit meliputi peningkatan produktivitas dan mutu, pengembangan industri hilir dan peningkatan nilai tambah, serta penyediaan dukungan dana pengembangan.

    Strategi pengembangan agribisnis kelapa sawit diantaranya adalah integrasi vertikal dan horisontal perkebunan kelapa sawit dalam rangka peningkatan ketahanan pangan masyarakat, pengembangan usaha pengolahan kelapa sawit di pedesaan, menerapkan inovasi teknologi dan kelembagaan dalam rangka pemanfaatan sumber daya perkebunan, dan pengembangan pasar. Strategi tersebut didukung dengan penyediaan infrastruktur (sarana dan prasarana) dan kebijakan pemerintah yang kondusif untuk peningkatan kapasitas agribisnis kelapa sawit. Dalam implementasinya, strategi pengembangan agribisnis kelapa sawit didukung dengan program-program yang komprehensif dari berbagai aspek manajemen, yaitu perencanaan, pelaksanaan (perbenihan, budidaya dan pemeliharaan, pengolahan hasil, pengembangan usaha, dan pemberdayaan masyarakat) hingga evaluasi.

    Kebutuhan investasi untuk perluasan kebun kelapa sawit 60.000 ha per tahun untuk lima tahun ke depan adalah Rp. 12,7 trilyun. Kebutuhan investasi di Indonesia Barat adalah Rp. 5,8 trilyun, investasi petani plasma sebesar Rp. 3,4 trilyun perusahaan inti sebesar Rp. 1,9 trilyun pemerintah sebesar Rp. 587milyar. Kebutuhan investasi di Indonesia Timur adalah Rp. 6,8 trilyun (investasi petani plasma sebesar Rp. 3,9 trilyun, perusahaan inti sebesar Rp. 2,3 trilyun dan pemerintah sebesar Rp. 649 milyar.

    Kebutuhan investasi untuk peremajaan kebun kelapa sawit 100.000 ha per tahun untuk lima tahun ke depan adalah Rp. 14,6 trilyun. Kebutuhan investasi untuk peremajaan 80.000 ha di Indonesia Barat adalah Rp. 10,7 trilyun (investasi petani plasma sebesar Rp. 8 trilyun perusahaan inti sebesar Rp. 2,4 milyar dan pemerintah sebesar Rp. 349,912,500,000). Kebutuhan investasi untuk peremajaan 20.000 ha di Indonesia Timur adalah Rp.3,9 trilyun (investasi petani plasma sebesar Rp. 3 trilyun perusahaan inti sebesar Rp. 741milyar dan pemerintah sebesar Rp. 113 milyar Total biaya investasi yang diperlukan dalam 5 tahun ke depan sekitar Rp. 27,3 trilyun.

    Dalam implementasinya, pengembangan agribisnis kelapa sawit baik melalui perluasan maupun peremajaan menerapkan pola pengembangan inti-plasma dengan penguatan kelembagaan melalui pemberian kesempatan kepada petani plasma sebagai pemilik saham perusahaan. Pemilikan saham ini dilakukan melalui cicilan pembelian saham dari hasil potongan penjualan hasil atau dari hasil outsourcing dana oleh organisasi petani.

    Kebutuhan investasi untuk pengembangan pabrik biodiesel kapasitas 6.000 ton per tahun (6.600 kl per tahun) dan kapasitas 100.000 ton per tahun (110.000 kl per tahun) masing-masing adalah Rp. 12 milyar dan Rp. 180 milyar. Apabila setiap tahun dibangun satu pabrik skala kecil dan besar, maka total biaya investasi yang diperlukan dalam lima tahun ke depan Rp. 860 milyar. Nilai investasi tersebut diperlukan untuk membeli peralatan dan mendirikan bangunan pabrik. Dukungan kebijakan sarana dan prasarana serta regulasi diperlukan untuk mencapai sasaran investasi dan pengembangan agribisnis sawit ini. Dukungan kebijakan diharapkan diperoleh dari Departemen Perindustrian, Departemen Perdagangan, Deparetemen Keuangan, Bank Indonesia, Kantor Menteri Negara BUMN, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, Badan Koordinasi Penanaman Modal, Kantor Menteri Negara Usaha Kecil, Menengah dan Koperasi, Pemerintah Daerah, dan Kejaksaan Agung serta Kepolisian.

    Pengembangan agribisnis kelapa sawit

    Posted at  1:27 AM  |  in  perkebunan kelapa sawit  |  Read More»

    Agribisnis adalah bisnis berbasis usaha pertanian atau bidang lain yang mendukungnya, baik di sektor hulu maupun di hilir. Pengembangan agribisnis kelapa sawit merupakan salah satu langkah yang diperlukan sebagai kegiatan pembangunan subsektor perkebunan dalam rangka revitalisasi sektor pertanian. Perkembangan pada berbagai subsistem yang sangat pesat pada agribisnis kelapa sawit sejak menjelang akhir tahun 1970-an menjadi bukti pesatnya perkembangan agribisnis kelapa sawit. Dalam dokumen praktis ini digambarkan prospek pengembangan agribisnis saat ini hingga tahun 2010, dan arah pengembangan hingga tahun 2025. Masyarakat luas, khususnya petani, pengusaha, dan pemerintah dapat menggunakan dokumen praktis ini sebagai acuan.

    Perkebunan kelapa sawit saat ini telah berkembang tidak hanya yang diusahakan oleh perusahaan negara, tetapi juga perkebunan rakyat dan swasta. Pada tahun 2003, luas areal perkebunan rakyat mencapai 1.827 ribu ha (34,9%), perkebunan negara seluas 645 ribu ha (12,3%), dan perkebunan besar swasta seluas 2.765 ribu ha (52,8%). Ditinjau dari bentuk pengusahaannya, perkebunan rakyat (PR) memberi andil produksi CPO sebesar 3.645 ribu ton (37,12%), perkebunan besar negara (PBN) sebesar 1.543 ribu ton (15,7 %), dan perkebunan besar swasta (PBS) sebesar 4.627 ribu ton (47,13%). Produksi CPO juga menyebar dengan perbandingan 85,55% Sumatera, 11,45% Kalimantan, 2%, Sulawesi, dan 1% wilayah lainnya. Produksi tersebut dicapai pada tingkat produktivitas perkebunan rakyat sekitar 2,73 ton CPO/ha, perkebunan negara 3,14 ton CPO/ha, dan perkebunan swasta 2,58 ton CPO/ha.

    Pengembangan agribisnis kelapa sawit ke depan juga didukung secara handal oleh enam produsen benih dengan kapasitas 124 juta per tahun. Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS), PT. Socfin, PT. Lonsum, PT. Dami Mas, PT. Tunggal Yunus, dan PT. Bina Sawit Makmur masing-masing mempunyai kapasitas 35 juta, 25 juta, 15 juta, 12 juta, 12 juta, dan 25 juta. Permasalahan benih palsu diyakini dapat teratasi melalui langkah-langkah sistematis dan strategis yang telah disepakati secara nasional. Impor benih kelapa sawit harus dilakukan secara hati-hati terutama dengan pertimbangan penyebaran penyakit.

    Dalam hal industri pengolahan, industri pengolahan CPO telah berkembang dengan pesat. Saat ini jumlah unit pengolahan di seluruh Indonesia mencapai 320 unit dengan kapasitas olah 13,520 ton TBS per jam. Sedangkan industri pengolahan produk turunannya, kecuali minyak goreng, masih belum berkembang, dan kapasitas terpasang baru sekitar 11 juta ton. Industri oleokimia Indonesia sampai tahun 2000 baru memproduksi olekimia 10,8% dari produksi dunia.

    Secara umum dapat diindikasikan bahwa pengembangan agribisnis kelapa sawit masih mempunyai prospek, ditinjau dari prospek harga, ekspor dan pengembangan produk. Secara internal, pengembangan agribisnis kelapa sawit didukung potensi kesesuaian dan ketersediaan lahan, produktivitas yang masih dapat meningkat dan semakin berkembangnya industri hilir. Dengan prospek dan potensi ini, arah pengembangan agribisnis kelapa sawit adalah pemberdayaan di hulu dan penguatan di hilir.

    Sejalan dengan tujuan pembangunan pertanian, tujuan utama pengembangan agribisnis kelapa sawit adalah:
    1. Menumbuh kembangkan usaha kelapa sawit di pedesaan yang akan memacu aktivitas ekonomi pedesaan, menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan 
    2. Menumbuhkan industri pengolahan CPO dan produk turunannya serta industri penunjang (pupuk, obata-obatan dan alsin) dalam meningkatkan daya saing dan nilai tambah CPO dan produk turunannya. 
    Sedangkan sasaran utamanya adalah
    1. Peningkatan produktivitas menjadi 15 ton TBS/ha/tahun,
    2. Pendapatan petani antara US$ 1,500 – 2,000/KK/tahun, dan 
    3. Produksi mencapai 15,3 juta ton CPO dengan alokasi domestik 6 juta ton.
    Arah kebijakan jangka panjang adalah pengembangan sistem dan usaha agribisnis kelapa sawit yang berdaya saing, berkerakyatan, berkelanjutan dan terdesentralisasi. Dalam jangka menengah kebijakan pengembangan agribisnis kelapa sawit meliputi peningkatan produktivitas dan mutu, pengembangan industri hilir dan peningkatan nilai tambah, serta penyediaan dukungan dana pengembangan.

    Strategi pengembangan agribisnis kelapa sawit diantaranya adalah integrasi vertikal dan horisontal perkebunan kelapa sawit dalam rangka peningkatan ketahanan pangan masyarakat, pengembangan usaha pengolahan kelapa sawit di pedesaan, menerapkan inovasi teknologi dan kelembagaan dalam rangka pemanfaatan sumber daya perkebunan, dan pengembangan pasar. Strategi tersebut didukung dengan penyediaan infrastruktur (sarana dan prasarana) dan kebijakan pemerintah yang kondusif untuk peningkatan kapasitas agribisnis kelapa sawit. Dalam implementasinya, strategi pengembangan agribisnis kelapa sawit didukung dengan program-program yang komprehensif dari berbagai aspek manajemen, yaitu perencanaan, pelaksanaan (perbenihan, budidaya dan pemeliharaan, pengolahan hasil, pengembangan usaha, dan pemberdayaan masyarakat) hingga evaluasi.

    Kebutuhan investasi untuk perluasan kebun kelapa sawit 60.000 ha per tahun untuk lima tahun ke depan adalah Rp. 12,7 trilyun. Kebutuhan investasi di Indonesia Barat adalah Rp. 5,8 trilyun, investasi petani plasma sebesar Rp. 3,4 trilyun perusahaan inti sebesar Rp. 1,9 trilyun pemerintah sebesar Rp. 587milyar. Kebutuhan investasi di Indonesia Timur adalah Rp. 6,8 trilyun (investasi petani plasma sebesar Rp. 3,9 trilyun, perusahaan inti sebesar Rp. 2,3 trilyun dan pemerintah sebesar Rp. 649 milyar.

    Kebutuhan investasi untuk peremajaan kebun kelapa sawit 100.000 ha per tahun untuk lima tahun ke depan adalah Rp. 14,6 trilyun. Kebutuhan investasi untuk peremajaan 80.000 ha di Indonesia Barat adalah Rp. 10,7 trilyun (investasi petani plasma sebesar Rp. 8 trilyun perusahaan inti sebesar Rp. 2,4 milyar dan pemerintah sebesar Rp. 349,912,500,000). Kebutuhan investasi untuk peremajaan 20.000 ha di Indonesia Timur adalah Rp.3,9 trilyun (investasi petani plasma sebesar Rp. 3 trilyun perusahaan inti sebesar Rp. 741milyar dan pemerintah sebesar Rp. 113 milyar Total biaya investasi yang diperlukan dalam 5 tahun ke depan sekitar Rp. 27,3 trilyun.

    Dalam implementasinya, pengembangan agribisnis kelapa sawit baik melalui perluasan maupun peremajaan menerapkan pola pengembangan inti-plasma dengan penguatan kelembagaan melalui pemberian kesempatan kepada petani plasma sebagai pemilik saham perusahaan. Pemilikan saham ini dilakukan melalui cicilan pembelian saham dari hasil potongan penjualan hasil atau dari hasil outsourcing dana oleh organisasi petani.

    Kebutuhan investasi untuk pengembangan pabrik biodiesel kapasitas 6.000 ton per tahun (6.600 kl per tahun) dan kapasitas 100.000 ton per tahun (110.000 kl per tahun) masing-masing adalah Rp. 12 milyar dan Rp. 180 milyar. Apabila setiap tahun dibangun satu pabrik skala kecil dan besar, maka total biaya investasi yang diperlukan dalam lima tahun ke depan Rp. 860 milyar. Nilai investasi tersebut diperlukan untuk membeli peralatan dan mendirikan bangunan pabrik. Dukungan kebijakan sarana dan prasarana serta regulasi diperlukan untuk mencapai sasaran investasi dan pengembangan agribisnis sawit ini. Dukungan kebijakan diharapkan diperoleh dari Departemen Perindustrian, Departemen Perdagangan, Deparetemen Keuangan, Bank Indonesia, Kantor Menteri Negara BUMN, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, Badan Koordinasi Penanaman Modal, Kantor Menteri Negara Usaha Kecil, Menengah dan Koperasi, Pemerintah Daerah, dan Kejaksaan Agung serta Kepolisian.

    0 komentar:

    Kritik dan Saran yang membangun dari Anda sangat KAMI harapkan.

    Silahkan isi KOMENTAR anda yang membangun untuk kemajuan dan koreksi di blog ini.No Sara, No Racism

    Thursday, May 1, 2008

    Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan kesedihannya setelah mendengar laporan anak buahnya tentang adanya penyelundupan minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) baru-baru ini.

    Untuk mencegah terjadinya tindakan ilegal tersebut, Presiden mengundang para pengusaha swasta yang bergerak di bidang eskpor CPO untuk duduk mersama mengatasi penyelundupan tersebut. Para menteri juga diminta mengatasi agar tidak terulang kembali.

    Hal itu dilontarkan Presiden Yudhoyono saat membuka Rapat Pimpinan Nasional (Rapinas) Kamar Dagang dan Industri Nasional (Kadin) 2008 di Jakarta Convention Centre (JCC), Senin (31/3). Dalam acara itu hadir di antaranhya Menko Perekonomian Boediono dan Menko Kesra Aburizal Bakrie, Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu. Menteri Perindutrian Fahmi Idris dan Ketua Kadin MS Hidayat.
    "Saya mendapat laporan adanya penyelundupan CPO di tengah-tengah naiknya harga CPO dunia. Saya sedih mendengarnya. Mari kita duduk dan membicarakan bersama untuk mengatasi hal ini," tandas Presiden Yudhoyono.
    Menurut Presiden, terkait kebijakan CPO, pemerintah sudah mengambil langkah-langkah baik bagi pengusaha terkait maupun untuk masyarakat yang terbebani dengan adanya kenaikan harga minyak goreng akibat naiknya harga CPO di luar negeri.
    "Pemerintah sudah meningkatkan subsidi pangan dengan instrumen APBN, yaitu termasuk meningkatkan daya beli masyarakat agar tetap terpelihara dengan naiknya harga CPO dunia," tambah Presiden. Bagi pengusaha CPO, Presiden Yudhoyono menambahkan, pemerintah sudah duduk bersama pada tahun lalu untuk mengantisipasi kenaikan harga CPO dunia.
    "Kita duduk bersama dan solusinya, pemerintah tidak mengenakan pajak eskpor (PE) dulu, akan tetapi dengan distribusi CPO ke masyarakat. Namun, itu juga tidak jalan. Pemeirntah kemudian mengenakan PE, lalu diminta duduk bersama lagi," jelas Presiden.

    Selanjutnya, kata Presiden, pemerintah akhirnya melakukan stabilisasi harga untuk mengurangi tekanan kepada pengusaha akibat pengenaan PE CPO dan pajak pertambahan nilai (PPN). Namun, belakangan ia mendengar adanya penyelundupan CPO.

    Presiden Sedih Mendengar Penyelundupan Minyak Kelapa Sawit

    Posted at  3:54 AM  |  in  minyak kelapa sawit  |  Read More»

    Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan kesedihannya setelah mendengar laporan anak buahnya tentang adanya penyelundupan minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) baru-baru ini.

    Untuk mencegah terjadinya tindakan ilegal tersebut, Presiden mengundang para pengusaha swasta yang bergerak di bidang eskpor CPO untuk duduk mersama mengatasi penyelundupan tersebut. Para menteri juga diminta mengatasi agar tidak terulang kembali.

    Hal itu dilontarkan Presiden Yudhoyono saat membuka Rapat Pimpinan Nasional (Rapinas) Kamar Dagang dan Industri Nasional (Kadin) 2008 di Jakarta Convention Centre (JCC), Senin (31/3). Dalam acara itu hadir di antaranhya Menko Perekonomian Boediono dan Menko Kesra Aburizal Bakrie, Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu. Menteri Perindutrian Fahmi Idris dan Ketua Kadin MS Hidayat.
    "Saya mendapat laporan adanya penyelundupan CPO di tengah-tengah naiknya harga CPO dunia. Saya sedih mendengarnya. Mari kita duduk dan membicarakan bersama untuk mengatasi hal ini," tandas Presiden Yudhoyono.
    Menurut Presiden, terkait kebijakan CPO, pemerintah sudah mengambil langkah-langkah baik bagi pengusaha terkait maupun untuk masyarakat yang terbebani dengan adanya kenaikan harga minyak goreng akibat naiknya harga CPO di luar negeri.
    "Pemerintah sudah meningkatkan subsidi pangan dengan instrumen APBN, yaitu termasuk meningkatkan daya beli masyarakat agar tetap terpelihara dengan naiknya harga CPO dunia," tambah Presiden. Bagi pengusaha CPO, Presiden Yudhoyono menambahkan, pemerintah sudah duduk bersama pada tahun lalu untuk mengantisipasi kenaikan harga CPO dunia.
    "Kita duduk bersama dan solusinya, pemerintah tidak mengenakan pajak eskpor (PE) dulu, akan tetapi dengan distribusi CPO ke masyarakat. Namun, itu juga tidak jalan. Pemeirntah kemudian mengenakan PE, lalu diminta duduk bersama lagi," jelas Presiden.

    Selanjutnya, kata Presiden, pemerintah akhirnya melakukan stabilisasi harga untuk mengurangi tekanan kepada pengusaha akibat pengenaan PE CPO dan pajak pertambahan nilai (PPN). Namun, belakangan ia mendengar adanya penyelundupan CPO.

    0 komentar:

    Kritik dan Saran yang membangun dari Anda sangat KAMI harapkan.

    Silahkan isi KOMENTAR anda yang membangun untuk kemajuan dan koreksi di blog ini.No Sara, No Racism

    Ekspor minyak kelapa sawit Malaysia tahun ini diprediksi akan menyentuh rekor tertinggi yakni sebesar 50 miliar ringgit (15,7 dollar AS), seiring dengan terus meningkatnya harga crude palm oil (CPO), demikian dilaporkan Malaysian Palm Oil Board (MPOB) seperti dikutip Bernama.

    Menurut Ketua MPOB, Datuk Sabri Ahmad, pendapatan dari ekspor minyak sawit Malaysia menikat 41,8 persen menjadi 45,1 miliar ringgit dibandingkan tahun 2007 yang mencapao 31,8 miliar ringgit.

    Sabri memperkirakan permintaan yang tinggi serta sedikitnya cadangan akan terus berlangsung hingga tahun 2009 mendatang. "Kami perkirakan permintaan global terhadap minyak sayur dan lemak akan meningkat dalam tiga hingga empat tahun kedepan," katanya.

    Dikatakannya, China dan India diperkirakan akan mempimpin permintaan terhadap minyak sawit karena meningkatnya konsumsi dan industri domestik mereka.

    Malaysia dan Indonesia merupakan dua negara produsen minyak sawit terkemuka, di mana minyak sawit itu biasanya digunakan untuk memasak dan pembuatan sabun tetapi penggunaan untuk makanan ternak guna memproduksi biodiesel juga terus mengalami peningkatan.

    Ekspor Sawit Malaysia Capai Rekor

    Posted at  3:53 AM  |  in  minyak kelapa sawit  |  Read More»

    Ekspor minyak kelapa sawit Malaysia tahun ini diprediksi akan menyentuh rekor tertinggi yakni sebesar 50 miliar ringgit (15,7 dollar AS), seiring dengan terus meningkatnya harga crude palm oil (CPO), demikian dilaporkan Malaysian Palm Oil Board (MPOB) seperti dikutip Bernama.

    Menurut Ketua MPOB, Datuk Sabri Ahmad, pendapatan dari ekspor minyak sawit Malaysia menikat 41,8 persen menjadi 45,1 miliar ringgit dibandingkan tahun 2007 yang mencapao 31,8 miliar ringgit.

    Sabri memperkirakan permintaan yang tinggi serta sedikitnya cadangan akan terus berlangsung hingga tahun 2009 mendatang. "Kami perkirakan permintaan global terhadap minyak sayur dan lemak akan meningkat dalam tiga hingga empat tahun kedepan," katanya.

    Dikatakannya, China dan India diperkirakan akan mempimpin permintaan terhadap minyak sawit karena meningkatnya konsumsi dan industri domestik mereka.

    Malaysia dan Indonesia merupakan dua negara produsen minyak sawit terkemuka, di mana minyak sawit itu biasanya digunakan untuk memasak dan pembuatan sabun tetapi penggunaan untuk makanan ternak guna memproduksi biodiesel juga terus mengalami peningkatan.

    0 komentar:

    Kritik dan Saran yang membangun dari Anda sangat KAMI harapkan.

    Silahkan isi KOMENTAR anda yang membangun untuk kemajuan dan koreksi di blog ini.No Sara, No Racism

    Friday, April 18, 2008

    Tahun 2008, produksi minyak sawit Indonesia diperhitungkan sudah mencapai 18 jutaan ton, sementara pada tahun yang sama, Malaysia masih memproduksi 17 jutaan ton,” kata Ketua Harian Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Derom Bangun, di sela-sela Muscab Gapki Sumut memilih kepengurusan asosiasi itu untuk periode tahun 2006-2009. Tahun ini, produksi minyak sawit Indonesia masih 15 jutaan ton dan tahun 2007 produksi komoditi itu ditargetkan naik 1,4 juta ton atau menjadi 16,4 juta ton. “Eksportir dan pemerintah harus mulai bersiap-siap menjadi negara produsen terbesar minyak sawit karena tantangan ekspor komoditi itu juga pasti bertambah,” katanya.

    Selain ketentuan pengapalan CPO harus menggunakan kapal yang dindingnya berlapis dua, ekspor CPO Indonesia “dibayangi” dengan ketentuan harus ramah lingkungan yang disepakati dalam “Meja Bundar Minyak Sawit Lestari”. “Semua pelaku persawitan harus mulai memanfaatkan momentum Indonesia yang akan menjadi negara produsen minyak sawit terbesar dunia itu,” katanya. Selain harus meningkatkan mutu produksinya, eksportir diminta meningkatkan lobi untuk meningkatkan pasar ekspornya.

    Sementara pemerintah diimbau memberikan dukungan dengan berbagai kebijakan yang mendukung produksi dan ekspor minyak sawit itu. Tahun ini, ekspor minyak sawit nasional diperkirakan minimal mencapai 11,3 juta ton dengan realisasi ekspor hingga Juli sudah mencapai 6,56 juta ton masing-masing untuk jenis crude palm oil (CPO) 2,91 juta ton dan produk minyak sawit lainnya sebanyak 3,65 juta ton. Ekspor minyak sawit itu akan terus bertambah setiap tahunnya. Pada 2007, misalnya, ekspor minyak sawit diprediksi bisa mencapai 11,7 juta ton dan naik lagi pada 2008 ketika Indonesia jadi negara produsen terbesar dunia.

    Peningkatan ekspor minyak sawit Indonesia tersebut, ujar Presdir PT.Kinar Lapiga itu, dipicu oleh menguatnya terus permintaan impor dari berbagai negara khususnya India dan Cina. Pada tahun depan, permintaan impor India menjadi 2, 5juta MT dari realisasi ekspor tahun ini yang ditargetkan sebanyak 2,2 juta ton dengan realisasi hingga Juli 2006 yang sudah mencapai 1,23 juta ton. Sementara ekspor ke Cina juga dipatikan mengalami kenaikan terus. Tahun ini, ekspor ke Cina diperkirakan menembus 1,8 juta ton dan 2,1 juta ton pada tahun 2007. Realisasi ekspor ke Cina itu pada Januari-Juli 2006 sudah mencapai 1,03 juta ton.

    Tahun 2008 Indonesia Negara Produsen Palm Oil Terbesar Dunia

    Posted at  2:48 AM  |  in  minyak kelapa sawit  |  Read More»

    Tahun 2008, produksi minyak sawit Indonesia diperhitungkan sudah mencapai 18 jutaan ton, sementara pada tahun yang sama, Malaysia masih memproduksi 17 jutaan ton,” kata Ketua Harian Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Derom Bangun, di sela-sela Muscab Gapki Sumut memilih kepengurusan asosiasi itu untuk periode tahun 2006-2009. Tahun ini, produksi minyak sawit Indonesia masih 15 jutaan ton dan tahun 2007 produksi komoditi itu ditargetkan naik 1,4 juta ton atau menjadi 16,4 juta ton. “Eksportir dan pemerintah harus mulai bersiap-siap menjadi negara produsen terbesar minyak sawit karena tantangan ekspor komoditi itu juga pasti bertambah,” katanya.

    Selain ketentuan pengapalan CPO harus menggunakan kapal yang dindingnya berlapis dua, ekspor CPO Indonesia “dibayangi” dengan ketentuan harus ramah lingkungan yang disepakati dalam “Meja Bundar Minyak Sawit Lestari”. “Semua pelaku persawitan harus mulai memanfaatkan momentum Indonesia yang akan menjadi negara produsen minyak sawit terbesar dunia itu,” katanya. Selain harus meningkatkan mutu produksinya, eksportir diminta meningkatkan lobi untuk meningkatkan pasar ekspornya.

    Sementara pemerintah diimbau memberikan dukungan dengan berbagai kebijakan yang mendukung produksi dan ekspor minyak sawit itu. Tahun ini, ekspor minyak sawit nasional diperkirakan minimal mencapai 11,3 juta ton dengan realisasi ekspor hingga Juli sudah mencapai 6,56 juta ton masing-masing untuk jenis crude palm oil (CPO) 2,91 juta ton dan produk minyak sawit lainnya sebanyak 3,65 juta ton. Ekspor minyak sawit itu akan terus bertambah setiap tahunnya. Pada 2007, misalnya, ekspor minyak sawit diprediksi bisa mencapai 11,7 juta ton dan naik lagi pada 2008 ketika Indonesia jadi negara produsen terbesar dunia.

    Peningkatan ekspor minyak sawit Indonesia tersebut, ujar Presdir PT.Kinar Lapiga itu, dipicu oleh menguatnya terus permintaan impor dari berbagai negara khususnya India dan Cina. Pada tahun depan, permintaan impor India menjadi 2, 5juta MT dari realisasi ekspor tahun ini yang ditargetkan sebanyak 2,2 juta ton dengan realisasi hingga Juli 2006 yang sudah mencapai 1,23 juta ton. Sementara ekspor ke Cina juga dipatikan mengalami kenaikan terus. Tahun ini, ekspor ke Cina diperkirakan menembus 1,8 juta ton dan 2,1 juta ton pada tahun 2007. Realisasi ekspor ke Cina itu pada Januari-Juli 2006 sudah mencapai 1,03 juta ton.

    0 komentar:

    Kritik dan Saran yang membangun dari Anda sangat KAMI harapkan.

    Silahkan isi KOMENTAR anda yang membangun untuk kemajuan dan koreksi di blog ini.No Sara, No Racism

    Licinnya minyak sawit ternyata cukup ampuh meluruhkan ketatnya sikap bank agar rela menggelontorkan banyak duit untuk pengembangan perkebunan dan industri turunan komoditas tersebut.

    Dahulu sektor perkebunan belum banyak dilirik perbankan karena dinilai berisiko tinggi. Namun sejak pemerintah menggelar program revitalisasi 2006-2010, dana publik di bank pun mengucur deras ke sektor perkebunan.

    Program revitalisasi perkebunan dengan kebutuhan dana Rp 40 triliun pada 2 juta hektare ini, memang tak hanya sawit karena pemerintah juga ingin adanya pengembangan komoditas kakao dan karet. Sawit tetap menjadi primadona di industri perkebunan, meski pengembangan komoditas ini diterpa isu kartel, rencana pembatasan lahan untuk holding company, kenaikan harga patokan ekspor (HPE) hingga soal pabrik tanpa kebun.

    Tapi kilau harga crude palm oil masih cukup menggiurkan bagi perbankan mencari bunga besar dengan memberikan pinjaman kepada perusahaan-perusahaan yang bermain di kebun sawit.

    Kredit bank memang tak hanya yang komersial (kredit investasi dan modal kerja biasa) tetapi juga dibungkus dalam kredit program pengembangan energi nabati dan revitalisasi perkebunan (KPEN-RP).

    Pada kredit program, lima bank tercatat yang siap untuk mendukung dengan komitmen pendanaan hingga Rp25,48 triliun, yaitu BRI, Bank Mandiri, Bukopin, Bank Nagari, dan Bank Pembangunan Daerah Sumut. Selaku bank dengan aset terbesar nasional, Bank Mandiri bahkan memiliki dua unit untuk melayani perkebunan, yaitu di layanan kredit korporasi (plantation specialist) dan satunya di small business group.

    Kredit perkebunan
    Sunarso, Senior Vice President Plantation Specialist Corporate Banking Bank Mandiri mengatakan baki debet kredit perkebunan sawit hingga 31 Juni 2007 mencapai Rp10,5 triliun dari limit plafon Rp17,8 triliun. Nilai tersebut merupakan 73% dari total kredit perkebunan (termasuk komoditas lainnya seperti karet, tebu, kopi dan teh) Bank Mandiri sebanyak Rp15,08 triliun hingga paruh pertama tahun ini.

    Dari dana Rp10,5 triliun itu sebagian besar terserap pemain-pemain besar di industri perkebunan kelapa sawit seperti sejumlah PTPN, kelompok usaha Sinar Mas, Lonsum, Astra Agro Lestari, Musim Mas. Sejak akhir tahun lalu paling tidak lebih dari 53 perusahaan besar yang merupakan kelompok korporasi bidang perkebunan sawit yang menjadi sasaran kredit Bank Mandiri.

    Awal tahun misalnya Sinar Mas, Incassi Raya, Satria Group serta Permata Hijau Sawit digelontori duit US$432 juta (Rp3,9 triliun). Sinar Mas bakal membuka lahan kelapa sawit seluas 67.000 hektare dengan nilai proyek Rp2,8 triliun. Kelompok usaha ini juga akan membangun pabrik pengolahan kelapa sawit dengan kapasitas 30 ton perjam dengan nilai proyek Rp45 miliar di Sumatra.

    Incassi tahun ini membuka lahan perkebunan seluas 32.000 hektare di Sumatra Barat dan Kalimantan Barat dengan nilai proyek senilai Rp725 miliar. Selain itu pabrik biodiesel berkapasitas 200.000 ton pertahun senilai Rp270 miliar juga akan dibangun di Sumbar.

    Sementara Satria hendak membuka perkebunan kelapa sawit seluas 10.000 hektare di Kalimantan Tengah senilai Rp300 miliar. Sementara itu, Permata Hijau Sawit mendapatkan fasilitas pembiayaan proyek pabrik pengolahan biodiesel dengan kapasitas 198.000 tan pertahun dengan nilai proyek Rp270 miliar di Riau. Itu belum seberapa, sebab pekan lalu, Bank Mandiri juga menyalurkan kredit senilai US$71,59 juta kepada Union Sampoerna Triputra Persada Group (USTP) mengakuisisi lahan perkebunan sawit milik Kulim Sdn Bhd.

    Lolos
    Berita yang seakan lolos perhatian publik ini menarik di tengah derasnya investor asing yang masuk menggarap lahan kebun sawit di Tanah Air. USTP merupakan perusahaan kongsi milik dua eksekutif Astra TP Rachmat dan Benny Subianto, serta Soetjahjono Winarko salah satu anggota keluarga kelompok usaha HM Sampoerna.

    Perusahaan Malaysia itu sepakat menjual lahan seluas 63.305 hektare di kabupaten Sukamara, Seroyan dan Lamandau di Kalimantan Tengah dengan nilai US$125 juta (sekitar Rp1,1 triliun). Ahmad Mohamad Managing Director Kulim, beralasan hengkangnya Kulim dari usaha produksi di Indonesia lebih dikarenakan restrukturisasi internal, tak mau berpolemik soal kartel dan pembatasan lahan.

    Dia justru menyebutkan Kulim akan memfokuskan kegiatan produksi di Papua Nugini (44.713 ha) dan kepulauan Solomon (6.594 ha) serta tentu saja di Malaysia (32.644 ha). Bank Negara Indonesia lain lagi. Dirut BNI Sigit Pramono bahkan membentuk divisi khusus yang menangani penyaluran kredit dan mitigasi risiko untuk kredit perkebunan, terutama sawit.

    Tahun lalu, ada 50 debitor BNI yang menerima kredit senilai Rp3,35 triliun untuk mengembangkan lahan perkebunan seluas 411.000 ha. Sedangkan tahun ini, bank pelat merah tersebut telah menyepakati penyaluran kredit awal Rp1,2 triliun kepada enam nasabah, baik debitor lama maupun baru seperti Sampoerna Agro, Sungai Budi Group, Rekayasa Group, Sinar Mas Group, Musimas Group dan Bio Energi Indonesia. Sigit menegaskan bank yang dipimpinnya menargetkan mampu menyalurkan kredit rata-rata sebesar Rp5 triliun baik untuk usaha replanting lahan kelapa sawit maupun pabrik derivatifnya.

    Berkilaunya Minyak Sawit

    Posted at  2:45 AM  |  in  minyak kelapa sawit  |  Read More»

    Licinnya minyak sawit ternyata cukup ampuh meluruhkan ketatnya sikap bank agar rela menggelontorkan banyak duit untuk pengembangan perkebunan dan industri turunan komoditas tersebut.

    Dahulu sektor perkebunan belum banyak dilirik perbankan karena dinilai berisiko tinggi. Namun sejak pemerintah menggelar program revitalisasi 2006-2010, dana publik di bank pun mengucur deras ke sektor perkebunan.

    Program revitalisasi perkebunan dengan kebutuhan dana Rp 40 triliun pada 2 juta hektare ini, memang tak hanya sawit karena pemerintah juga ingin adanya pengembangan komoditas kakao dan karet. Sawit tetap menjadi primadona di industri perkebunan, meski pengembangan komoditas ini diterpa isu kartel, rencana pembatasan lahan untuk holding company, kenaikan harga patokan ekspor (HPE) hingga soal pabrik tanpa kebun.

    Tapi kilau harga crude palm oil masih cukup menggiurkan bagi perbankan mencari bunga besar dengan memberikan pinjaman kepada perusahaan-perusahaan yang bermain di kebun sawit.

    Kredit bank memang tak hanya yang komersial (kredit investasi dan modal kerja biasa) tetapi juga dibungkus dalam kredit program pengembangan energi nabati dan revitalisasi perkebunan (KPEN-RP).

    Pada kredit program, lima bank tercatat yang siap untuk mendukung dengan komitmen pendanaan hingga Rp25,48 triliun, yaitu BRI, Bank Mandiri, Bukopin, Bank Nagari, dan Bank Pembangunan Daerah Sumut. Selaku bank dengan aset terbesar nasional, Bank Mandiri bahkan memiliki dua unit untuk melayani perkebunan, yaitu di layanan kredit korporasi (plantation specialist) dan satunya di small business group.

    Kredit perkebunan
    Sunarso, Senior Vice President Plantation Specialist Corporate Banking Bank Mandiri mengatakan baki debet kredit perkebunan sawit hingga 31 Juni 2007 mencapai Rp10,5 triliun dari limit plafon Rp17,8 triliun. Nilai tersebut merupakan 73% dari total kredit perkebunan (termasuk komoditas lainnya seperti karet, tebu, kopi dan teh) Bank Mandiri sebanyak Rp15,08 triliun hingga paruh pertama tahun ini.

    Dari dana Rp10,5 triliun itu sebagian besar terserap pemain-pemain besar di industri perkebunan kelapa sawit seperti sejumlah PTPN, kelompok usaha Sinar Mas, Lonsum, Astra Agro Lestari, Musim Mas. Sejak akhir tahun lalu paling tidak lebih dari 53 perusahaan besar yang merupakan kelompok korporasi bidang perkebunan sawit yang menjadi sasaran kredit Bank Mandiri.

    Awal tahun misalnya Sinar Mas, Incassi Raya, Satria Group serta Permata Hijau Sawit digelontori duit US$432 juta (Rp3,9 triliun). Sinar Mas bakal membuka lahan kelapa sawit seluas 67.000 hektare dengan nilai proyek Rp2,8 triliun. Kelompok usaha ini juga akan membangun pabrik pengolahan kelapa sawit dengan kapasitas 30 ton perjam dengan nilai proyek Rp45 miliar di Sumatra.

    Incassi tahun ini membuka lahan perkebunan seluas 32.000 hektare di Sumatra Barat dan Kalimantan Barat dengan nilai proyek senilai Rp725 miliar. Selain itu pabrik biodiesel berkapasitas 200.000 ton pertahun senilai Rp270 miliar juga akan dibangun di Sumbar.

    Sementara Satria hendak membuka perkebunan kelapa sawit seluas 10.000 hektare di Kalimantan Tengah senilai Rp300 miliar. Sementara itu, Permata Hijau Sawit mendapatkan fasilitas pembiayaan proyek pabrik pengolahan biodiesel dengan kapasitas 198.000 tan pertahun dengan nilai proyek Rp270 miliar di Riau. Itu belum seberapa, sebab pekan lalu, Bank Mandiri juga menyalurkan kredit senilai US$71,59 juta kepada Union Sampoerna Triputra Persada Group (USTP) mengakuisisi lahan perkebunan sawit milik Kulim Sdn Bhd.

    Lolos
    Berita yang seakan lolos perhatian publik ini menarik di tengah derasnya investor asing yang masuk menggarap lahan kebun sawit di Tanah Air. USTP merupakan perusahaan kongsi milik dua eksekutif Astra TP Rachmat dan Benny Subianto, serta Soetjahjono Winarko salah satu anggota keluarga kelompok usaha HM Sampoerna.

    Perusahaan Malaysia itu sepakat menjual lahan seluas 63.305 hektare di kabupaten Sukamara, Seroyan dan Lamandau di Kalimantan Tengah dengan nilai US$125 juta (sekitar Rp1,1 triliun). Ahmad Mohamad Managing Director Kulim, beralasan hengkangnya Kulim dari usaha produksi di Indonesia lebih dikarenakan restrukturisasi internal, tak mau berpolemik soal kartel dan pembatasan lahan.

    Dia justru menyebutkan Kulim akan memfokuskan kegiatan produksi di Papua Nugini (44.713 ha) dan kepulauan Solomon (6.594 ha) serta tentu saja di Malaysia (32.644 ha). Bank Negara Indonesia lain lagi. Dirut BNI Sigit Pramono bahkan membentuk divisi khusus yang menangani penyaluran kredit dan mitigasi risiko untuk kredit perkebunan, terutama sawit.

    Tahun lalu, ada 50 debitor BNI yang menerima kredit senilai Rp3,35 triliun untuk mengembangkan lahan perkebunan seluas 411.000 ha. Sedangkan tahun ini, bank pelat merah tersebut telah menyepakati penyaluran kredit awal Rp1,2 triliun kepada enam nasabah, baik debitor lama maupun baru seperti Sampoerna Agro, Sungai Budi Group, Rekayasa Group, Sinar Mas Group, Musimas Group dan Bio Energi Indonesia. Sigit menegaskan bank yang dipimpinnya menargetkan mampu menyalurkan kredit rata-rata sebesar Rp5 triliun baik untuk usaha replanting lahan kelapa sawit maupun pabrik derivatifnya.

    1 komentar:

    Kritik dan Saran yang membangun dari Anda sangat KAMI harapkan.

    Silahkan isi KOMENTAR anda yang membangun untuk kemajuan dan koreksi di blog ini.No Sara, No Racism

    Komposisi Trigliserida Dalam Minyak Kelapa Sawit
    Komposisi Asam Lemak Minyak Kelapa Sawit

    Komposisi Trigliserida Dalam Minyak Kelapa Sawit

    Komposisi Trigliserida Dalam Minyak Kelapa Sawit

    Posted at  2:30 AM  |  in  minyak kelapa sawit  |  Read More»

    Komposisi Trigliserida Dalam Minyak Kelapa Sawit
    Komposisi Asam Lemak Minyak Kelapa Sawit

    Komposisi Trigliserida Dalam Minyak Kelapa Sawit

    0 komentar:

    Kritik dan Saran yang membangun dari Anda sangat KAMI harapkan.

    Silahkan isi KOMENTAR anda yang membangun untuk kemajuan dan koreksi di blog ini.No Sara, No Racism

    Saturday, April 12, 2008

    • Pabrik kelapa sawit (PKS) mini merupakan salah satu teknologi alternatif pengolahan kelapa sawit dengan kapasitas 0,5-1 ton TBS/jam. PKS mini dirancang khusus untuk perkebunan kelapa sawit dengan luas 160-300 ha. PKS mini sangat mudah dioperasikan, hanya memerlukan tenaga kerja 6 orang/shift, menggunakan limbah sawit sebagai bahan bakar, dan hanya memerlukan lahan 2.500 m2.
    • PKS M-1000 terdiri atas delapan unit peralatan pengolahan, yaitu satu unit boiler yang mampu menghasilkan 600 kg uap/jam dengan tekanan 3 kg/cm, dua unit steriliser, satu unit thresher dengankapasitas 1.000 kg TBS/jam, satu unit double screw press mini, satu unit tangki klarifikasi dengan kapasitas 1.200 liter, satu unit tangki penampung minyak, satu unit deperikarper dengan kapasitas 200 kg biji+serat/jam, serta satu unit nut cracker dengan kapasitas 500 kg biji/jam.
    • Dengan biaya investasi PKS M-1000 sebesar Rp1,5 miliar, biaya pengolahan TBS menjadi crude palm oil (CPO) adalah Rp368,23/kg TBS dengan asumsi harga CPO Rp3.150/kg, inti Rp1.675/kg dan harga beli TBS Rp567,4/kg. PKS Mi-1000 secara ekonomis layak diusahakan dengan parameter ekonomi sebagai berikut: IRR= 24,78%; B/C= 1,18; NPV= Rp708.305.000; payback period= 3 tahun.
    • Sasaran pengembangan PKS M-1000 adalah kelompok pekebun kecil kelapa sawit swadana, usaha perkebunan besar skala kecil, dan usaha perkebunan skala menengah yang ongkos angkut TBS ke PKS lebih dari Rp75/kg TBS.
    • Manfaat yang diperoleh petani kelapa sawit dengan adanya PKS M-1000 adalah petani lebih mudah melakukan pemasaran TBS, harga TBS yang dihasilkan petani menjadi bersaing sehingga pendapatanpetani bertambah. Selain itu, tandan kosong sawit (TKS) yang merupakan limbah padat PKS dapat dimanfaatkan sebagai bahan organik.

    Pabrik Kelapa Sawit Mini

    Posted at  8:02 AM  |  in  perkebunan kelapa sawit  |  Read More»

    • Pabrik kelapa sawit (PKS) mini merupakan salah satu teknologi alternatif pengolahan kelapa sawit dengan kapasitas 0,5-1 ton TBS/jam. PKS mini dirancang khusus untuk perkebunan kelapa sawit dengan luas 160-300 ha. PKS mini sangat mudah dioperasikan, hanya memerlukan tenaga kerja 6 orang/shift, menggunakan limbah sawit sebagai bahan bakar, dan hanya memerlukan lahan 2.500 m2.
    • PKS M-1000 terdiri atas delapan unit peralatan pengolahan, yaitu satu unit boiler yang mampu menghasilkan 600 kg uap/jam dengan tekanan 3 kg/cm, dua unit steriliser, satu unit thresher dengankapasitas 1.000 kg TBS/jam, satu unit double screw press mini, satu unit tangki klarifikasi dengan kapasitas 1.200 liter, satu unit tangki penampung minyak, satu unit deperikarper dengan kapasitas 200 kg biji+serat/jam, serta satu unit nut cracker dengan kapasitas 500 kg biji/jam.
    • Dengan biaya investasi PKS M-1000 sebesar Rp1,5 miliar, biaya pengolahan TBS menjadi crude palm oil (CPO) adalah Rp368,23/kg TBS dengan asumsi harga CPO Rp3.150/kg, inti Rp1.675/kg dan harga beli TBS Rp567,4/kg. PKS Mi-1000 secara ekonomis layak diusahakan dengan parameter ekonomi sebagai berikut: IRR= 24,78%; B/C= 1,18; NPV= Rp708.305.000; payback period= 3 tahun.
    • Sasaran pengembangan PKS M-1000 adalah kelompok pekebun kecil kelapa sawit swadana, usaha perkebunan besar skala kecil, dan usaha perkebunan skala menengah yang ongkos angkut TBS ke PKS lebih dari Rp75/kg TBS.
    • Manfaat yang diperoleh petani kelapa sawit dengan adanya PKS M-1000 adalah petani lebih mudah melakukan pemasaran TBS, harga TBS yang dihasilkan petani menjadi bersaing sehingga pendapatanpetani bertambah. Selain itu, tandan kosong sawit (TKS) yang merupakan limbah padat PKS dapat dimanfaatkan sebagai bahan organik.

    0 komentar:

    Kritik dan Saran yang membangun dari Anda sangat KAMI harapkan.

    Silahkan isi KOMENTAR anda yang membangun untuk kemajuan dan koreksi di blog ini.No Sara, No Racism

    • Limbah cair pabrik kelapa sawit dapat digunakan sebagai pupuk. Aplikasi limbah cair memiliki keuntungan antara lain dapat mengurangi biaya pengolahan limbah cair dan sekaligus berfungsi sebagai sumber hara bagi tanaman kelapa sawit.
    • Kualifikasi limbah cair yang digunakan mempunyai kandungan BOD 3.500–5.000 mg/l yang berasal dari kolam anaerobik primer.
    • Metode aplikasi limbah cair yang umum digunakan adalah sistem flatbed, yaitu dengan mengalirkan limbah melalui pipa ke bak-bak distribusi dan selanjutnya ke parit primer dan sekunder (flatbed). Ukuran flatbed adalah 2,5 m x 1,5 m x 0,25 m. Dosis pengaliran limbah cair adalah 12,6 mm ekuivalen curah hujan (ECH)/ha/bulan atau 126 m3/ha/bulan.
    • Kandungan hara pada 1m3 limbah cair setara dengan 1,5 kg urea, 0,3 kg SP-36, 3,0 kg MOP, dan 1,2 kg kieserit. Pabrik kelapa sawit dengan kapasitas 30 ton/jam akan menghasilkan sekitar 480 m3 limbah cair per hari, sehingga areal yang dapat diaplikasi sekitar 100-120 ha.
    • Pembangunan instalasi aplikasi limbah cair membutuhkan biaya yang relatif mahal. Namun investasi ini diikuti dengan peningkatan produksi TBS dan penghematan biaya pupuk sehingga penerimaan juga meningkat. Aplikasi limbah cair 12,6 mm ECH/ha/bulan dapat menghemat biaya pemupukan hingga 46%/ha. Di samping itu, aplikasi limbah cair juga akan mengurangi biaya pengolahan limbah.
    • Limbah cair pabrik kelapa sawit telah banyak digunakan di perkebunan kelapa sawit baik perkebunan negara maupun perkebunan swasta. Penggunaan limbah cair mampu meningkatkan produksi TBS 16-60%. Limbah cair tidak menimbulkan pengaruh yang buruk terhadap kualitas air tanah di sekitar areal aplikasinya.

    Aplikasi Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit pada Perkebunan Kelapa Sawit

    Posted at  7:59 AM  |  in  Pabrik Kelapa Sawit  |  Read More»

    • Limbah cair pabrik kelapa sawit dapat digunakan sebagai pupuk. Aplikasi limbah cair memiliki keuntungan antara lain dapat mengurangi biaya pengolahan limbah cair dan sekaligus berfungsi sebagai sumber hara bagi tanaman kelapa sawit.
    • Kualifikasi limbah cair yang digunakan mempunyai kandungan BOD 3.500–5.000 mg/l yang berasal dari kolam anaerobik primer.
    • Metode aplikasi limbah cair yang umum digunakan adalah sistem flatbed, yaitu dengan mengalirkan limbah melalui pipa ke bak-bak distribusi dan selanjutnya ke parit primer dan sekunder (flatbed). Ukuran flatbed adalah 2,5 m x 1,5 m x 0,25 m. Dosis pengaliran limbah cair adalah 12,6 mm ekuivalen curah hujan (ECH)/ha/bulan atau 126 m3/ha/bulan.
    • Kandungan hara pada 1m3 limbah cair setara dengan 1,5 kg urea, 0,3 kg SP-36, 3,0 kg MOP, dan 1,2 kg kieserit. Pabrik kelapa sawit dengan kapasitas 30 ton/jam akan menghasilkan sekitar 480 m3 limbah cair per hari, sehingga areal yang dapat diaplikasi sekitar 100-120 ha.
    • Pembangunan instalasi aplikasi limbah cair membutuhkan biaya yang relatif mahal. Namun investasi ini diikuti dengan peningkatan produksi TBS dan penghematan biaya pupuk sehingga penerimaan juga meningkat. Aplikasi limbah cair 12,6 mm ECH/ha/bulan dapat menghemat biaya pemupukan hingga 46%/ha. Di samping itu, aplikasi limbah cair juga akan mengurangi biaya pengolahan limbah.
    • Limbah cair pabrik kelapa sawit telah banyak digunakan di perkebunan kelapa sawit baik perkebunan negara maupun perkebunan swasta. Penggunaan limbah cair mampu meningkatkan produksi TBS 16-60%. Limbah cair tidak menimbulkan pengaruh yang buruk terhadap kualitas air tanah di sekitar areal aplikasinya.

    1 komentar:

    Kritik dan Saran yang membangun dari Anda sangat KAMI harapkan.

    Silahkan isi KOMENTAR anda yang membangun untuk kemajuan dan koreksi di blog ini.No Sara, No Racism

    Evaluasi Lahan
    • Tahap awal dari pembukaan perkebunan kelapa sawit adalah melakukan evaluasi lahan. Evaluasi kesesuaian lahan dilakukan terhadap satuan lahan yang telah ditetapkan berdasarkan hasil survei tanah. Evaluasi kesesuaian lahan didahului oleh kegiatan survei dan pemetaan tanah untuk mendeskripsikan satuan-satuan lahan. Evaluasi kesesuaian lahan didasarkan pada penilaian beberapa karakteristik lahan yang disesuaikan dengan syarat tumbuh tanaman kelapa sawit.
    Pengendalian Hama Tikus dengan Burung Hantu
    • Burung hantu (Tyto alba) merupakan predator tikus yang sangat potensial pada perkebunan kelapa sawit. Predator ini mampu menurunkan serangan tikus pada tanaman muda hingga di bawah 5%. Sementara itu, ambang kritis serangan tikus di perkebunan kelapa sawit sebesar 10%.
    Pengendalian Hayati Ulat Api Menggunakan Entomopatogenik
    • Pengendalian hayati ulat api Setothosea asigna pada kelapa sawit dilakukan dengan menggunakan mikroorganisme entomopatogenik, yaitu virus ß Nudaurelia, multi plenucleo-polyhedrovirus (MNPV), dan jamur Cordyceps aff. militaris.
    Feromon untuk Pengendalian Kumbang Tanduk
    • Kumbang tanduk (Oryctes rhinoceros) umumnya menyerang tanaman kelapa sawit muda dan dapat menurunkan produksi tandan buah segar (TBS) pada tahun pertama menghasilkan hingga 69%. Di samping itu, kumbang tanduk juga mematikan tanaman muda sampai 25%.
    Biofungisida Marfu Pengendali Jamur Ganoderma boninense
    • Penyebab busuk pangkal batang (BPB) pada tanaman kelapa sawit adalah Ganoderma boninense yang merupakan jamur tanah hutan hujan tropis. Jamur G. boninense bersifat saprofit (dapat hidup pada sisa tanaman) dan akan berubah menjadi patogenik apabila bertemu dengan akar tanaman kelapa sawit yang tumbuh di dekatnya. Serangan BPB dapat terjadi sejak bibit sampai tanaman tua, tetapi gejala penyakit biasanya baru terlihat setelah bibit ditanam di lapangan.

    Kelapa Sawit

    Posted at  7:50 AM  |  in  perkebunan kelapa sawit  |  Read More»

    Evaluasi Lahan
    • Tahap awal dari pembukaan perkebunan kelapa sawit adalah melakukan evaluasi lahan. Evaluasi kesesuaian lahan dilakukan terhadap satuan lahan yang telah ditetapkan berdasarkan hasil survei tanah. Evaluasi kesesuaian lahan didahului oleh kegiatan survei dan pemetaan tanah untuk mendeskripsikan satuan-satuan lahan. Evaluasi kesesuaian lahan didasarkan pada penilaian beberapa karakteristik lahan yang disesuaikan dengan syarat tumbuh tanaman kelapa sawit.
    Pengendalian Hama Tikus dengan Burung Hantu
    • Burung hantu (Tyto alba) merupakan predator tikus yang sangat potensial pada perkebunan kelapa sawit. Predator ini mampu menurunkan serangan tikus pada tanaman muda hingga di bawah 5%. Sementara itu, ambang kritis serangan tikus di perkebunan kelapa sawit sebesar 10%.
    Pengendalian Hayati Ulat Api Menggunakan Entomopatogenik
    • Pengendalian hayati ulat api Setothosea asigna pada kelapa sawit dilakukan dengan menggunakan mikroorganisme entomopatogenik, yaitu virus ß Nudaurelia, multi plenucleo-polyhedrovirus (MNPV), dan jamur Cordyceps aff. militaris.
    Feromon untuk Pengendalian Kumbang Tanduk
    • Kumbang tanduk (Oryctes rhinoceros) umumnya menyerang tanaman kelapa sawit muda dan dapat menurunkan produksi tandan buah segar (TBS) pada tahun pertama menghasilkan hingga 69%. Di samping itu, kumbang tanduk juga mematikan tanaman muda sampai 25%.
    Biofungisida Marfu Pengendali Jamur Ganoderma boninense
    • Penyebab busuk pangkal batang (BPB) pada tanaman kelapa sawit adalah Ganoderma boninense yang merupakan jamur tanah hutan hujan tropis. Jamur G. boninense bersifat saprofit (dapat hidup pada sisa tanaman) dan akan berubah menjadi patogenik apabila bertemu dengan akar tanaman kelapa sawit yang tumbuh di dekatnya. Serangan BPB dapat terjadi sejak bibit sampai tanaman tua, tetapi gejala penyakit biasanya baru terlihat setelah bibit ditanam di lapangan.

    1 komentar:

    Kritik dan Saran yang membangun dari Anda sangat KAMI harapkan.

    Silahkan isi KOMENTAR anda yang membangun untuk kemajuan dan koreksi di blog ini.No Sara, No Racism

    About-Privacy Policy-Contact us
    Copyright © 2013 Kelapa Sawit | Sei Mangkei. Blogger Template by Bloggertheme9
    Proudly Powered by Blogger.
    back to top